Meaningless Regret

Air matamu kembali menetes. Hatimu berdegup kencang hampir meletup. Tanganmu tak kuasa menahan nafsu. Mendaratkan permukannya kepipiku kencang.

Tak bisa berkata, tak bisa bergerak. Hanya bisa terdiam mematung bagai patung. Mendengar jeritanmu dalam tangisan penuh emosi. Matakupun terpejam. Mulai basah, mulai tak sanggup membendung air mata.

Entah mengapa aku melakukan hal bodoh terhadapmu. Aku bahkan tak sadar telah melakukannya. Membuatmu terluka sangat dalam. Menusuk hatimu dengan belati tajam.

Kau masih menangis berusaha mengendalikan dirimu. Kau terus berteriak ke arahku. Memaki, mencaci, meluapkan seluruh amarah didalam dirimu seperti gunung meletus. Bahkan energimu terkuras, habis hinga lemas.

Maafkan aku. Maafkan diriku yang bodoh. Yang telah melupakan dirimu. Memilih selain dirimu. Merasa selalu benar namun kusalah. Tak peduli akan hatimu yang tergores luka. Melakukan segala sesuatu sesukaku, tanpa berfikir akan hadirmu. Meski kau berulang kali menggemakan hal yang sama untuk kebaikanku, telingaku bagai tersumbat. Menjadi tuli dan tak mendengarmu.

Mungkin aku pantas mendapatkan ini. Tidak, ini belum cukup. Mungkin kau harus menamparku lebih keras.

Kau tahu, kini aku sadar. Aku telah menyia-nyiakanmu. Melanggar semua janji yang kita buat dahulu. 4 tahun kita bersama, tak membuat aku menjadi lebih baik. Aku sadar, kau menyayangiku lebih dari apapun. Namun sayang, aku terlalu bodoh untuk menyadari hal itu seterlambat ini. Aku… juga mencintaimu.

Apa, masih ada hatimu untuku? Apa masih ada cinta itu di dalam hatimu? Apa masih ada kesempatan itu?

Kini aku hanya memelas. Mengemis segenggam kasih sayang dari dirimu. Betapa menyedihkannya diriku di hadapanmu. Seorang pecundang yang kehilangan kepercayaan dirinya.

Aku ingin membuktikannya sekali lagi. Keseriusan perasaan ini. Aku ingin kembali memelukmu, kembali menggenggam tanganmu yang dingin kesepian. Merangkul, dan menuntunmu di setiap langkah kesendirianmu. Menjadi orang yang berharga didalam hatimu. Menjadi yang terakhir di perjalanan cintamu. Pelabuhan terakhir dari hatimu.

Ku berlutut, ku gengam tanganmu, ku masukan jarimu kedalam cincin berukirkan namamu, seraya berkata “Maukah, kita melupakan semuanya, dan memulai kehidupan baru yang lebih baik?”

Yuuki Shin, Never trust me, you never know whats on my mind

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s