We’re Diferent

Aku bingung. Semua masalah percintaan ini telah membuatku lelah. Entah apa yang harus aku lakukan sekarang. Mulutku membisu, Mataku membuta, dan telingaku mendadak tak mendengar. Apa yang harus aku jelaskan lagi? Semua sudah jelas terpampang di depan mataku. Nasihat – nasihat mereka pun sudah sering aku dengarkan. Bahkan perlahan mulai memenuhi otaku.

Kebingungan sudah lama terbendung di dalam hatiku. Gelisah akan perbedaan yang terjadi diantara aku dan dia. Bagai katak yang ingin terbang, seperti burung yang ingin menyelam. Berusaha untuk terima, namun dunia tetap menolak. Perlahan, kepercayaan terhadap mereka mulai luntur. Mereka bahkan menaikan bahu ketika aku bertanya, “apa yang harus aku lakukan?”. Seberat itukah masalah yang harus ku hadapi?

Ku ceritakan semuanya pada orang yang paling bisa ku andalkan di dunia. Orang tuaku. Namun sayang, mereka tak dapat berbuat apa – apa. Ayahku bahkan keberatan dengan apa yang akan aku hadapi kelak. Menyuruhku menghindari segala kemungkinan yang mungkin bisa terjadi. Aku tahu mereka sangat menghawatirkan ku. Aku mengerti mereka tak ingin anaknya beralih kepercayaan dari yang sudah selama ini kami pegang kukuh. Hal paling penting dalam kehidupan, dan hal yang sangat tabu untuk menduakannya.

Bukankah tuhan menciptakan perbedaan, agar kita bisa menghargai satu sama lain? Agar kita dapat menjalani hidup bersama dan mengisi kekosongan satu sama lain? Namun, mengapa perbedaan selalu membawa petaka? Rasisme, terkucilkan, penghinaan, genosida, pembantaian, selalu disebabkan karena perbedaan?

Negara kami negara demokrasi. Berbeda tetapi tetap satu. Tapi, untuk menjalin hubungan dengan seseorang saja, banyak sekali ketentuannya. Tidak boleh ini, harus itu, tidak boleh itu harus ini. Apakah itu yang dinamakan demokrasi.

Aku mencintainya. Aku mencintai orang yang sangat berbeda dari kami. Kehidupan kami bagai ikan dan burung. Dia terbang di atas langit, sementara aku menyelam di dalam laut.

Aku benar – benar tak tahu apa yang harus aku perbuat. Berharap bisa hidup bersama denganya, damun dunia seakan enggan memberikan kuasanya. Perbedaan yang hampir mustahil untuk dipersatukan. Yang aku bisa lakukan sekarang hanya berdoa, berharap muzizat datang menghampiri kita berdua. Berharap, kita bisa bersatu, namun tak perlu merubah apapaun. Kau dengan imanmu, dan aku dengan imanku.

Yuuki Shin
愛してる。。。

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s