CLANNAD

Aku terlahir di kota ini. Tumbuh di sini, bermain di sini, dan menjadi dewasa di sini. Aku tidak mau berakhir di kota ini. Awalnya aku berfikir begitu. Sampai aku bertemu seorang gadis cantik berambut pendek. Gadis yang sangat keras kepala, aktif, namun tidak bisa berekspresi dengan baik. Polos, itulah satu kata yang paling tepat untuk mendeskripsikan dirinya. Tapi, dia memiliki sesuatu yang terlihat bersinar cerah dimataku. Kepolosan itulah yang ternyata berhasil merubahku. Anak yang dulu urakan, tidak berperilaku baik, seperti anak kecil, dan mudah emosi. Itulah aku dulu.

Aku sangat mencintainya. Meskipun kadang dia terlihat bodoh. Setiap hari kurasakan sepi jika tidak dengannya. Pertemuan dengannya yang tidak disengaja ketika aku masih SMA, telah membawaku kepada pengalaman hidup baru. Sejak hari itu, Setiap hari adalah episode – episode penting yang tidak boleh dilewatkan. Sampai kita meresmikan hubungan kita ke atas pelaminan. Perasaanku campur aduk tak menentu saat itu. Sejak saat itulah. Aku mulai mencintai kota ini. Mengiginkan untuk tinggal disini bersamanya. Ditempat yang penuh akan kenangan kita berdua. Seakan menolak segala perubahan yang terjadi di kota ini, karena tak ingin kami kehilangan tempat kenangan kami di sini. Kami mulai menjalani hidup berdua. Menjalani hidup layaknya suami istri yang berbahagia. Bahkan waktu itu, istriku tengah mengandung seorang anak yang dia idam – idamkan.

Namun, mimpi buruk datang menyerang keharmonisan keluarga kami. Fisik istriku yang ternyata lemah, membuatnya sulit untuk melahirkan dengan selamat. Itu yang waktu itu dokter katakan. Kami panik bukan kepayang. Aku sudah berkali – kali menyuruh istriku untuk menyerah. Namun istriku tetap saja keras kepala dan ingin bayi itu keluar dengan selanat. Aku sangat mencintainya. Aku tak ingin mempertaruhkan nyawanya demi seorang bayi dalam tubuhnya. Namun aku sadar, ternya dia lebih menginginkan keturunannya selamat. Dia rela untuk menahan sakit hanya demi bayi yang dikandungnya. Menangis aku tak bisa berbuat apa – apa. Aku mengerti. Aku membiarkannya mengandung sampai saat melahirkan, sambil terus berdoa supaya bayi kami selamat.

Saat melahirkanpun tiba. Sayang sekali, saat itu salju tengah turun lebat di depan rumah kami. Hampir tidak mungkin untuk kami pergi kerumah sakit. Bahkan ambulance-pun tak bisa menjemput kami. Hanya bidan di dekat rumah kami yang berhasil kami datangkan. Aku hanya bisa memegang tangan istriku erat. Seakan saling tak ingin kehilangan. Pertarungan antara hidup dan mati dijalani istriku dengan penuh semangat. Mengingat fisiknya yang lemah, aku malah makin khawatir. Akhirnya bayi kami keluar dengan selamat. Ushio, begitulah aku memanggilnya untuk yang pertama kalinya. Tak lama kami tersenyum melihat bayi kami, mimpi buruk yang lain malah datang menghampiri. Pendarahan istriku tak bisa berhenti. Darah terus keluar dari dalam tubuhnya. Sementara dokter masih belum bisa datang ke rumah. Aku mulai panik. Aku hanya bisa mengajaknya bicara supaya ia bisa tetap bertahan. Namun apa daya. Ajal telah menjemput istriku. Dia sudah kalah di medan perang. Aku menangis tak berhenti. Seakan tak rela kehilangan istriku yang sangat kucintai.

Sudah 5 tahun sejak kematian istriku. Aku menitipkan anakku pada mertuaku. Sekarang aku menjalani hidup tanpa arti. Hidup hanya untuk makan dan tidur. Seperti mayat hidup. Aku masih belum bisa melupakan kematiannya. Meskipun aku bekerja sampai lembur, hanya untuk berusaha melupakannya. Itu sama sekali tidak berpengaruh padaku. Setiap malam aku menangis mengingatnya.

Tiba – tiba mertuaku mengajaku untuk berlibur bersamanya dan anaku. Namun, aku masih tak bisa bertemu dengan anaku. Meskipun dua sering mengunjungiku dengan mertuaku kerumah, tapi terkadang aku tidak memperdulikannya. Sudah lama sekali aku tidak bertemu mereka. Aku, tidak bisa menolak permintaan sang mertua yang juga telah mengurusku sewaktu aku tidak punya rumah. Akhirnya aku memenuhi undangannya.

Pada jum’at pagi aku datang kerumah mereka. Aku menemukan sepucuk surat dimeja, yang menjelaskan bahwa mertuaku mendadak ada urusan penting. Sehingga aku harus berlibur berdua dengan anaku. Aku, tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Bahkan, aku ragu, apa aku aku bisa memberi liburan yang menyenangkan padanya atau tidak.

Akhirnya kami pergi berdua. Aku dengan anaku. Diperjalan, terkadang aku sedikit membentak karena sikap anaku yang keras kepala dan tidak mau diam. Malah, aku menemukannya menangis di toilet kereta api yang tengah kita naiki waktu itu. Aku sangat merasa bersalah waktu itu. Berusaha menebus dosaku karena telah membentaknya, aku membelikan mainan untuknya. Meskipun dia perempuan, entah kenapa dia sangat menyukai robot-robotan yang aku belikan padanya. Yah sudahlah, yang penting dia senang.

Kami tiba di suatu ladang bunga matahari yang luas. Dia sangat senang sehinga ingin bermain di tengah ladang dengan mainan yang baru kubelikan. Beberapa lama dia bermain, dia datang padaku dengan wajah berkaca – kaca, berusaba menjelaskan maiannya hilang. Kami berdua berusaha mencarinya, namun tak ada hasil. Aku sudah bilang padanya untuk membeli mainan yang sama di tempat yang lain. Namun dia tetap bersikeras untuk mencarinya. Sampai waktu kita harus pulang. Aku berkata untuk membeli lagi mainan yang sama. Namun dia malah menghampiriku dengan wajah yang ditahan untuk menangis seraya berkata. “Ayah, tidak ada mainan yang sama seperti itu. Karena itu adalah barang pertama yang ayah berikan padaku dan aku sangat menyukainya.” Seketika aku terkejut mendengarnya. Hatinya yang sangat lemah lembut membuatku merasakan cinta untuk kedua kalinya. Aku sangat merasa berdosa telah meninggalkannya selama 5 tahun. Tak lama dia kembali berkata padaku dengan mata yang berkaca – kaca, “Ayah, kata nenek, aku harus kuat. Tidak boleh menangis. Namun ketika ingin menangis, aku hanya boleh menangis di kamar mandi, dan di bahu ayah, apa sekarang aku boleh menangis di bahu ayah?” Aku makin merasa bersalah. Tanpa pikir panjang lagi ku peluk anaku ushio dan membiarkannya menangis dibahuku. Namun tanpa kusadari, air matakupun ikut jatuh ke bahu ushio.

“Hari ini aku sangat senang bisa berlibur dengan ayah. Namun aku juga sedih, telah menghilangkan barang yang sangat berharga untuku” ucap ushio padaku. Aku hanya bisa tersenyum senang mendengarnya. Seraya mengusap kepalanya.

Kami akhirnya pulang dan memulai hidup baru dengan aku mengasuh ushio untuk pertama kalinya. Sekarang hidup ku kembali lebih cerah. Melihat ushio, telah mengingatkanku pada istriku. Sesekali ushio bertanya tentang ibunya. Lalu kujelaskan untuk menghibur hatinya. Kini, telah ada lagi sesosok manusia yang membuatku menjadi lebih berarti. Aku, akan melindunginya, dan berjuang untuknya. Dia adalah satu – satunya kenangan yang masih hidup dari istriku. Kenang – kenangan yang khusus diberikanmya untuku. Aku sangat mencintai mereka berdua.

Namun kebahagianku ini, lagi – lagi tak berumur panjang. Ketika musim dingin tiba. Ushio mendadak sakit. Demam yang sangat tinggi, yang tubuhnya takkan mampu bertahan untuk anak seumurnya. Aku sangat khawatir. Aku terus berdoa untuk kesembuhannya. Segala cara sudah aku lakukan demi membuat anaku sembuh.

Tiba – tiba saja anaku ingin berlibur bersamaku hari itu. Meskipun ku bilang “nanti” setelah dia mengalami kesembuhan, namun dia keras kepala. Aku, tidak bisa menolak permintaan anaku yang tengah sakit, karena aku benar – benar mencintainya. Ku persiapkan segala barang untuk membawanya berlibur meskipun salju tengah turun. Sesekali aku menangis sambil mempersiapkan barang – barang tersebut. Kami akhirnya berjalan berjalan berdua menuju stasiun kereta api. Di tengah jalan, tiba – tiba saja ushio mengigau. Dia terus – terusan bertanya “apa ini sudah di kereta?” “disini gelap? Sudah malam yah?”. Dengan sedikit berkaca – kaca aku menjawab pertanyaan tersebut, dengan jawaban yang tidak membuat hati ushio sedih meski sedikit berbohong. Pada akhirnya dia berkata “I Love You, Papa”. Pada saat itu pulalah nafas terakhirnya berhembus. Pecah, tangisanku pada saat itu. Betapa sengsaranya diriku saat itu. Kehilangan orang yang berharga untuk kedua kalinya. Aku merasa dipermainkan dikota ini. 27 tahun aku hidup disini, dan mendapat cobaan yang teramat berat. Aku merasa telah terkena kutukan yang teramat pahit. Di kota ini aku merasakan segalanya. Kebahagian sampai akhirnya kepedihan. Ketika aku merasa bahagia di kota ini, ketika itupula aku merasakan kepedihan. Aku yang mulai menyukai kota ini, kini sudah kembali membencinya. Tak sanggup aku menerima semuanya lebih dari ini.

2 tahun sejak kematian anaku dan 7 tahun setelah kematian istriku. Aku memutuskan untuk pergi dari kota ini dan memulai kehidupan baru. Kehidupan dimana aku tidak akan mengingat kenangan yang telah terjadi di kota kelahiranku. Dimana aku akan terbangun seolah segalanya hanyalah mimpi.

Ketika kalian membaca tulisan ini. Mungkin aku sudah pergi dari sini. Jangan pernah mencariku. Aku tidak akan pernah kembali kesini

Credits to : Anime/Manga/Game Clannad & Clannad : After Story

Advertisements

2 comments

  1. leadsnowhere · March 13, 2014

    wow. aku nangis bacanyaa haha keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s