A sword to protect prople can’t bring happiness, but as far as I know, is a blade for cooking the only one that have ever brought happiness.

Kore wa Zombie Desuka – Seraphim

Advertisements

Lights of Hope (Part 2 : Hope(s))

Sesampainya di apartemen, Shin terkejut melihat ada bungkusan kardus berada di depan pintu. Tidak tertulis nama pengirimnya. Hanya alamat tempat Shin tinggal dan tulisan Kagamine Shin yang merupakan nama lengkap Shin. ‘Apa ini?’ Tanya shin misterius dalam hati. Sedikit tidak memperdulikan barang itu. Ia langsung membuka pintu apartemennya, lalu menyimpan kotak kardus tersebut di atas meja.

Shin membuka kulkas kecil di pojok ruangan, lalu mengambil sekaleng bir yang ada di dalamnya. Setelah itu ia menyalakan televisi sambil mengganti bajunya.

“Pelaku terror bom hingga saat ini belum di tangkap” berita yang muncul di televisi malam itu. Shin terlihat sedikit kesal.
Read More

Lights of Hope (part 1 : Prologue)

Hari itu Shin tengah bekerja di lingkungan kerjanya. Di sebuah hotel berbintang 5. Salah satu hotel ternama yang berada di pusat kota Tokyo. Dia bekerja sebagai seorang juru masak. Meski jabatannya hanya sebagai demi chef, namun dia selalu bekerja sepenuh hati. Ya, menjadi seorang koki adalah cita – citanya sejak kecil. Dia menjadi salah satu orang yang sangat dipercaya oleh rekan – rekan kerjanya. Bahkan sang executive chef pernah menawarkannya untuk bekerja dengannya dengan gajih yang lebih besar di Amerika. Namun sayangnya Shin terpaksa menolak tawarannya.
Read More

Terbanglah…

Kau membawaku kembali ke menyelam ke dasar laut. Lebih dalam dari sebelumnya. Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan. Membuatku menahan nafas hingga sesak rasanya.

Hei! Apa kau lupa!? Aku ini bukan seekor ikan yang memiliki insang. Mana mungkin aku dapat mengikutimu menyelam sedalam itu. Mana mungkin aku bisa selalu berada di sampingmu? Bukankah kita sepakat untuk tidak melakukan ini lagi? Sepertinya kau memang lupa.
Read More

Sat, July 25

Hari itu kita berada di sebuah pusat perbelanjaan tak jauh dari rumah. Sepertinya dia ingin membeli sesuatu yang dia perlukan.

Tak lama seusai bereblanja kita beristirhat sejenak. Aku berniat membeli beberapa kaleng minuman untuk kita. Jadi aku pamit untuk pergi sebentar. Read More