Terbanglah…

Kau membawaku kembali ke menyelam ke dasar laut. Lebih dalam dari sebelumnya. Aku tidak mengerti apa yang kau inginkan. Membuatku menahan nafas hingga sesak rasanya.

Hei! Apa kau lupa!? Aku ini bukan seekor ikan yang memiliki insang. Mana mungkin aku dapat mengikutimu menyelam sedalam itu. Mana mungkin aku bisa selalu berada di sampingmu? Bukankah kita sepakat untuk tidak melakukan ini lagi? Sepertinya kau memang lupa.

Aku melihatmu seperti seekor kijang yang berlali sangat kencang, sementara aku hanya seekor siput yang berjalan lambat karena rumah yang dipikulnya. Ya, rumah itu adalah bebanku. Kau tidak akan pernah tau betapa berat beban yang aku miliki. Kau tak kan pernah mengerti. Betapa sakit seluruh tubuhku, dan kau masih saja ingin menambah beban itu padaku?

Tidak teman tidak. Kita sudah bukan sepasang kekasih. Kau harusnya bisa terbang lebih tinggi dari ini. Bukan ini yang kau harapkan bukan? Maaf aku hanya bisa menemanimu sampai sini. Pergilah, larilah, terbanglah hingga aku tidak bisa melihatmu lagi. Sudah cukup kau membebaniku dan dirimu sendiri. Sudah waktunya kita kembali ke alam liar. Berkeliaran bebas tanpa adanya saling mengatur. Biarkan aku kembali menjadi apa yang aku inginkan.

Kita yang sekarang sudah bukan kita yang dulu. Maka terimalah. Aku percaya ini yang terbaik untuk kita. Kau akan terbang tinggi ke angkasa luas. Melihat dunia dari atas awan. Terbang dan teruslah terbang. Biarkan aku menapaki dunia di atas tanah. Perlahan tapi pasti, aku akan meniti jalanku sendiri menjelajahi duniaku. Kau bukan aku dan aku bukan kau. Maka biarkanlah aku menjadi apa yang ku inginkan.

Kau tahu, mungkin ini kali terakhir kita bertemu. Tegarlah, masih banyak jalanan yang belum kau jelajahi. Masih luas samudra yang belum kau arungi. Masih terlalu tinggi gunung – gunung untuk kau daki. Berjuanglah, hidupmu bukan hanya sampai disini. Hanya hubungan kita yang harus berakhir. Aku tahu kau mengerti tanpa harus aku berikan penjelasan.

Tenang kawan, bagaimanapun kau pernah mengisi hari – hariku penuh canda. Kau pernah berada disisiku disaat aku susah. Tak mungkin aku melupakanmu begitu saja. Aku akan selalu mengingatmu. Bukan sebagai ‘mantan’ kekasih. Tetapi sebagai teman yang pernah aku cintai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s