Lights of Hope (part 1 : Prologue)

Hari itu Shin tengah bekerja di lingkungan kerjanya. Di sebuah hotel berbintang 5. Salah satu hotel ternama yang berada di pusat kota Tokyo. Dia bekerja sebagai seorang juru masak. Meski jabatannya hanya sebagai demi chef, namun dia selalu bekerja sepenuh hati. Ya, menjadi seorang koki adalah cita – citanya sejak kecil. Dia menjadi salah satu orang yang sangat dipercaya oleh rekan – rekan kerjanya. Bahkan sang executive chef pernah menawarkannya untuk bekerja dengannya dengan gajih yang lebih besar di Amerika. Namun sayangnya Shin terpaksa menolak tawarannya.

Adiknya tengah dirawat di rumah sakit karena penyakitnya yang unik. Xeroderma Pigmentosum. Kelainan pada kulit yang menyebabkan ia tidak bisa terkena sinar ultraviolet tingkat tinggi. Moon Child, begitulah orang – orang menyebutnya. Belum lagi, Sera adalah satu – satunya keluarga Shin yang tersisa. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Ayahnya meninggal karena terlalu banyak mengkonsumsi nikotin. Sebagai perokok berat, kanker pada tenggorokan ayahnya sudah tidak dapat tertolong lagi. Ibunya meninggal karena kecelakan 2 tahun silam. Ia termasuk kedalam salah satu korban ledakan bom yang terjadi di sebuah kereta. Ibu Shin berniat pergi untuk menjenguk Sera. Namun belum sampai pada tujuan, nyawanya sudah tidak dapat terselamatkan. Maka dari itu, Shin tidak dapat pergi terlalu jauh untuk bekerja, meski dia sangat membutuhkan uang.

“Shin, kau lembur lagi hari ini?” Tanya seorang rekan yang baru saja selesai bekerja.
“Begitulah..” Jawab Shin
“Hey, aku tahu kau sangat membutuhkan uang, tapi jangan kau paksakan dirimu terlalu jauh. Kau bisa ikut terbaring bersama adikmu nanti”
“Bukankah itu bagus? Dengan begitu aku bisa lebih lama memperhatikan adiku”
“Terserah kau sajalah. Aku pulang duluan. Jika ada apa – apa hubungi saja aku. Akhir – akhir ini si orang baru itu sering membuat masalah.”
“Baiklah Ken, aku sangat menghargai itu. Hati – hati di jalan”

Ken hanya mengangkat jempolnya, lalu ia langsung pergi pulang. Sementara Shin masih berada di loker untuk sedikit beristirahat. Yah, pekerjaan di dapur memang sangat berat. Meski ia mencintai pekerjaannya, namun tetap saja terkadang jenuh datang menghampirinya. Selain itu, kondisi adiknya yang akhir – akhir ini memburuk membuat pikirannya tengah kacau.

Shin kembali ke dapur. Masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan. Persiapan untuk sarapan para tamu hotel esok pagi masih belum selesai. Belum lagi ada pertemuan besar yang akan diadakan di hotelnya esok hari. Shin harus menyiapkan hidangan – hidangan tersebut sebelum ia pulang. Sementara jam di di dinding sudah menunjukan pukul 10 malam. Shin sudah bekerja dari pukul 9 pagi. Sudah lebih 6 jam dari waktu ia seharusnya bekerja.

“Shin, mise en place untuk sarapan biar aku saja yang menyiapkan. Kau kerjakan untuk function besok” usul seorang commis padanya.
“Kau kan masih baru, apa kau yakin bisa menyiapkan itu semua?”
“Kau pikir aku ini siapa? Sudah tenang saja, kalau hanya sarapan sudah setiap hari aku lakukan”
“Baiklah Ryu, terima kasih atas bantuanmu” balas Shin seraya menyimpulkan senyum kecil di wajahnya. Menandakan ia lega masih ada orang yang dengan senang hati membantunya.

Tepat pukul 12 malam semua pekerjaan mereka selesai. Kini tinggal bagian shift malam yang akan meneruskan dan menyelesaikan pekerjaan mereka. Seperti biasa, shin selalu mandi di loker sebelum pulang. Alasannya simple. Ia hanya tidak mau terlihat kotor dan bau ikan di hadapan adik kesayangannya.

“Hey shin, maaf tadi aku sedikit mengacau. Harusnya kita bisa pulang lebih cepat. Karena aku salah membuat jelly caviar, maka kau harus mengulang lagi dari awal. Maaf shin, aku malah membenani mu”
“Sudahlah Ryu, wajar saja, kau masih pemula kan. Yang penting sekarang kau tau bagaimana membuatnya dengan benar”
“Tetap saja aku masih tidak enak”

Tak lama Shin selesai lalu keluar dari kamar mandi yang ada di loker

“Ada tempat minum baru dekat sini, kau mau mampir?” Ajak Ryu pada Shin.
“Ah terima kasih, tapi sepertinya aku tidak bisa. Aku sudah janji pada adiku”
“Kau ini, selalu saja memanjakan adikmu. Sesekali manjakanlah dirimu sendiri. Ya sudah kalau kau tidak mau”
Shin hanya membalas dengan senyum kecil.

Tidak semua orang tau tentang kehidupannya. Hanya Ken satu – satunya orang yang dia percaya untuk bercerita. Shin tidak mau orang – orang memanjakan dia jika mereka tahu apa yang di alaminya. Shin tidak suka dilihat lemah. Dia di ajari untuk tidak mengemis belas kasihan orang lain. Ayahnya selalu mengajari dia untuk terlihat kuat dan menyelesaikan semua masalahnya sendiri. Setidaknya, itu adalah salah satu warisan yang sangat berharga baginya.

Dengan mengendarai sepedah motor tua miliknya, Shin pergi ke rumah sakit tempat adiknya dirawat tak jauh dari hotel. Sebelumnya ia menyempatkan untuk mampir di kedai desert kesukaan adiknya. Shin membeli sepotong Cheesecake dan beberapa Macaroons warna warni untuk adiknya. Selain itu, ia juga membeli secangkir kopi untuknya dan coklat hangat untuk adiknya. Tak terasa Shin sudah sampai.

“Selamat datang kakaaa” sambut sera dengan Senyum lebar di wajahnya. “Apa itu?” Tanya sera seraya menunjuk pada bungkusan yang dibawa Shin.
“Coba tebak?” Shin balik bertanya sambil melemparkan senyum jahil.
“Hmm, wangi ini… Cheesecake!!!” Sera sedikit teriak antusias. Senyum diwajahnya semakin lebar. Matanya berbinar – binar tanda ia sangat senang malam itu.

Shin segera memberikan bungkusan itu pada Sera. Sera langsung membukanya itu dan melahapnya. Shin tersenyum melihatnya. Melihat adiknya sebahagia itu, merupakan salah satu pemandangan paling indah yang pernah ia saksikan. Tak sadar Shin sesekali meneteskan air matanya. Akhir – akhir ini Shin sangat mudah terbawa suasana. Wajar saja, setelah semua yang ia hadapi, dan sekarang ia harus menjalani hidupnya sendiri dan membiayai adiknya.

“Kaka, kenapa?” Tanya gadis kecil di tempat tidur itu.
“Ah, ini.. Tadi mataku kemasukan debu. Hanya sedikit perih” jawab Shin bohong.
“Kaka baik – baik saja?”
“Tentu saja, tidak pernah lebih baik dari ini” shin tersenyum. “Sudah larut malam, ayo kau segera tidur. Besok masih ada pemeriksaan terakhir. Berjuanglah” lanjutnya.
Sera hanya mengangguk. “Selamat tidur”

Shin lalu menyelimutinya, lalu mencium keningnya. Seketika setelah ia melihat Sera tertidur, Shin langsung kembali pergi. Ia berniat bertemu dengan dokter yang menangani kasus Sera untuk bertanya tentang pemeriksaannya besok. Sebelum pergi dari ruangan itu, Shin mematikan lampu sambil sesekali melihat ke arah Sera. Ia sangat mengharapkan kesembuhan adiknya. Setidaknya, ia ingin melihat kondisi Sera membaik.

Di ruangan dokter Ayumu, Shin di perlihatkan beberapa hasil rontgen dari bagian – bagian tubuh Sera. Shin tidak begitu mengerti. Ia menunggu penjelasan dari sang dokter.

“Keadaan Sera memang semakin memburuk” terang dokter pada shin. “Penyakit ini memang belum ada obatnya. Kami akan terus mengupayakan akan kesembuhan adikmu”
Wajah Shin memucat. Hatinya galau. Ia bingung bukan kepalang.
“Namun, sepertinya keadaan hatinya semakin membaik hari ke hari. Mungkin karena kau selalu menemaninya setiap malam. Ia selalu ceria ketika menjalani pemeriksaan apapun yang aku berikan dan menjalaninya dengan penuh semangat. Jangan berhenti berharap. Sera anak yang Kuat. Bukan hal yang mustahil jika ada mukzizat menghampirinya”.

Sayangnya penjelasan sang dokter tidak membuat keadaan hati Shin membaik. Ia malah semakin bingung. ‘Apa yang harus aku lakukan?’ Pikirnya dalam hati. Shin melangkahkan kaki keluar dari rumah sakit. Ia masih harus kembali ke apartemennya dan bersiap untuk kembali bekerja esok hari. Pikiran tentang kondisi adiknya tak mudah hilang di sepanjang perjalanan pulang. Lagi – lagi air mata Shin harus mengalir keluar.

Sesampainya di apartemen, Shin terkejut melihat ada bungkusan kardus berada di depan pintu. Tidak tertulis nama pengirimnya. Hanya alamat tempat Shin tinggal dan tulisan Kagamine Shin yang merupakan nama lengkap Shin. ‘Apa ini?’ Tanya shin misterius dalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s