Lights of Hope (Part 2 : Hope(s))

Sesampainya di apartemen, Shin terkejut melihat ada bungkusan kardus berada di depan pintu. Tidak tertulis nama pengirimnya. Hanya alamat tempat Shin tinggal dan tulisan Kagamine Shin yang merupakan nama lengkap Shin. ‘Apa ini?’ Tanya shin misterius dalam hati. Sedikit tidak memperdulikan barang itu. Ia langsung membuka pintu apartemennya, lalu menyimpan kotak kardus tersebut di atas meja.

Shin membuka kulkas kecil di pojok ruangan, lalu mengambil sekaleng bir yang ada di dalamnya. Setelah itu ia menyalakan televisi sambil mengganti bajunya.

“Pelaku terror bom hingga saat ini belum di tangkap” berita yang muncul di televisi malam itu. Shin terlihat sedikit kesal.

Ada kemungkinan ia adalah pelaku dari kejadian 2 tahun lalu yang menewaskan ibunya. Tiba – tiba shin teringat atas kotak paket yang tiba – tiba datang malam ini.

Shin menghampiri kotak itu seraya membukanya perlahan. Shin terkejut ketika melihat isinya hanyalah sebuah ponsel dan buku catatan kecil. Shin menyimpan birnya di samping kotak tersebut. Lalu ia mengambil kedua barang di dalamnya. Barang pertama yang ia perhatikan adalah ponsel. Ponsel tersebut tengah berada dalam ke adaan mati. Karena penasaran, shin langsung menyalakan ponsel tersebut. Sembari menunggu loading, shin membuka catatan yang satunya. Tidak ada tulisan apapun didalamnya. Hanya sampul hitam yang menghiasi catatan tersebut.

Ponselnya mulai menyala. Sekilas itu seperti ponsel biasa berbasis android. Tidak ada yang aneh. Shin mencoba melihat kembali pata kotak kardus pembungkus barang tersebut. Shin tidak menemukan apapun. Hanya kotak kosong berwarna coklat. Namun tiba – tiba ponsel itu berdering. Shin mengambil ponsel tersebut penasaran. Shin terkejut sedikit bingung melihat tulisan yang terdapat di layar ponsel tersebut.

“Welcome to Gloryland. In this world, we can grant any of your wishes. Press yes if you want to join us or no if you want to stay in reality”

Tangan shin lalu dengan reflek menekan tombol ‘yes’. Tanpa ia tahu apa yang akan ia hadapi. Ia mengira ini hanya aplikasi permainan yang tertanam otomatis pada ponsel tersebut. Lalu beberapa tulisan lain muncul di layar ponsel tersebut.

“Thank you for joining us. As we promised, we can grant any of your wishes. Write your wishes in the column below. Separate you wishes by using coma.”

Terlanjur penasaran, Shin menulis beberapa harapan yang ia inginkan. Dari mulai harapan – harapan kecil hingga harapan – harapan besar bahkan mustahil. Shin bahkan menulis ingin menghidupkan kembali kedua orangtuanya. Tak lupa, ia menuliskan keinginannya untuk kesembuhan adiknya. Setelah selesai menulis Iya lalu menekan tombol enter. Lalu beberapa tulisan muncul lagi.

“Thank you for wishing from us. Now your wishes has been processed. Please wait for a moment”

Dengan sabar shin menunggu sembari meneguk bir kaleng yang tadi ia ambil. Tak berapa lama layar ponsel tersebut kembali memunculkan kata – kata yang membuat Shin penasaran.

“Now your wishes have been listed. You can add your wishes in edit toolbar. But you cannot cancel or delete your wishes. Every wishes will be granted after you have done your mission. If the missions are not accomplish, your wish will never come true and you have to deal with your own risk depends on what grade your wishes is. Press next if you’re agree”

Shin terheran  – heran melihat tulisan yang baru saja dibacanya. Sebenarnya ia sedikit ragu untuk menekan tombol ‘next’ yang tertera di layar ponsel itu. ‘Ah mungkin ini hanya sebuah permainan kecil’ pikirnya. Namun sayang shin tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ia menekan tombol next.

“Thank you. Now you’ve becoming one of our user. The first mission for you will be sent immediately”

Lalu tidak muncul apa – apa lagi pada layar tersebut. Lama shin menunggu, ponsel tersebut hanya kembali seperti ponsel biasa. Setiap kali shin mencoba membuka aplikasi tersebut. Kata terakhir yang sama selalu muncul. Aplikasi tersebut juga tidak dapat di hapus dari ponsel tersebut sekalipun Shin mencobanya.

Karena waktu yang sudah sangat larut shin langsung bergegas tidur. Ia sudah tidak peduli pada apa yang terjadi pada ponsel tersebut. Ia juga sudah lelah atas pekerjaannya dan kepalanya sudah cukup pusing memikirkan kondisi adiknya. Ia meletakan ponsel tersebut tepat di sebelah catatan hitam dari paket misterius tersebut. Tak berapa lama Shin sudah memejamkan matanya.

***

Pagi telah menjelang. Matahari sangat terik pagi itu. Masuk melalu jendela kamarnya seakan menyirami wajahnya yang tengah kantuk. Seperti biasa shin bangun lebih pagi untuk menyiapkan sarapan untuk adiknya di rumah sakit. Shin pun segera bersiap untuk bekerja. Tiba – tiba shin teringat ponsel semalam. Ia mengambil ponsel tersebut lalu kembali membuka aplikasi semalam. ‘HOPE(S)’ itulah nama aplikasi tersebut.

“Congratulations, your first wish has been come true. Enjoy your new Knife Package.”

Shin sedikit bingung. Tidak terjadi apa – apa saat itu. Sampai seseorang mengetuk pintu apartemennya. Shin bergegas menghampiri pintu lalu membukanya.

“Maaf, benar ini dengan kediaman Kagamine?” Tanya seorang kurir padanya.
“Ya benar, ada apa?”
“Ada kiriman paket untuk anda. Silahkan tanda tangan disini”
“Maaf, tapi dari siapa ya?”
“Dari Victorinox di Swiss, sepertinya anda mendapatkan beberapa peralatan memasak baru. Bukankah anda sudah memesannya sebelumnya?”
Shin kebingungan. ‘Sejak kapan aku memesan barang – barang semahal itu’ pikirnya dalam hati. Namun seketika dia kembali teringat atas harapan yang dia tulis semalam. ‘Apa benar itu benar – benar terjadi? Tapi bukankah ada misi yang harus aku jalankan sebelumnya?’

Shin menerima barang itu lalu kemabli ke kamarnya dan mengambil ponsel misterius tersebut. Dia kembali membuka aplikasi HOPE(S). Lalu mengecek beberapa toolbar yang terdapat di ponsel itu. Benar saja, shin terkejut bukan kepalang. Ternyata misi pertamanya hanyalah bangun sebelum pukul 8 di hari tersebut. Ia baru sadar ternyata sudah 2 jam berlalu setelah ia bangun dari tidur. Pada toolbar ‘wish’ ia melihat harapan pertamanya telah tercoret dan berubah warna dari putih menjadi hitam. Menandakan bahwa harapan pertamanya telah terkabul. Ia semakin penasaran dengan aplikasi tersebut. Namun sayangnya dia tidak sempat untuk mengotak atik aplikasi itu. Shin harus pergi ke rumah sakit sebelum ia pergi bekerja. Shin segera bergegas untuk pergi. Ia mengambil ponsel dan catatan hitam tersebut untuk dibawanya. Ketika ia mengambil catatan hitam tersebut, beberapa halaman tiba – tiba jatuh seperti sudah disobek sebelumnya. Ada yang aneh, 5 halaman yang tersobek itu telah berubah warna menjadi hitam. ‘Apa maksudnya ini?’. Tanpa sempat berfikir panjang, Shin bergegas pergi.

***

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s