Loneliness

Mereka bilang, aku itu aneh. Diam memojok sendiri tanpa ada yang menghampiri

Mereka bilang, aku itu mengerikan. Tatapanku yang menghujam tajam pada mereka, seakan memberi isyarat kalau aku bukan manusia.

Bukan mereka yang menjauhiku, hanya aku yang tidak mau bersama mereka

Untuk apa teman? Kalau akhirnya hanya untuk dikhianati

Untuk apa teman? Kalau mereka hanya memanfaatkan kita

Untuk apa teman? Kalau hanya ada kala butuhnya saja

Lebih baik aku begini, sendiri menantang takdir.

Lebih baik tidak punya teman, kalau akhirnya hanya menjatuhkan.

Lebih baik sendirian, ah sudahlah, ini sudah terlalu nyaman bagiku

Setidaknya, sekarang aku pribadi yang mandiri. Tidak perlu memohon – mohon pada orang lain.

Melakukan segalanya sendirian, bagiku, itu sangat keren

Tertanda

Pria kesepian.

We are Liar

Pada dasarnya semua manusia itu pembohong. Mereka berbohong tentang dirinya. Mereka berbohong untuk di anggap. Mereka berbohong hanya untuk satu hubungan “pertemanan”. Karena pada dasarnya, manusia hanya mendengar apa yang mereka ingin dengar. Karena pada dasarnya mereka hanya ingin di akui meski harus berbohong.

Apa kau akan berteman dengan orang yang menyebutmu goblok? Apa kau akan berteman dengan orang terus menyebut2 sifat burukmu? Meski pada kenyataannya itulah yang sebenarnya? Ironis bukan? Mengetahui kalau sebenarnya teman terbaikmu adalah seorang pendusta?

Well, sebenarnya ga ada yang salah. Karena pengakuan diri, menerima pujian, atau bantuan dari orang lain, merupakan hak dan kebutuhan setiap manusia

Namun, pernahkan kau melihat seorang penyendiri? Seseorang yang tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Seseorang yang tidak peduli dengan apa yang orang lain katakan tentangnya. Seseorang yang tetap akan teguh berdiri, meski dunia terus membencinya. Bagiku, itulah sejujur2nya seorang manusia. Dan itu keren

A sword to protect prople can’t bring happiness, but as far as I know, is a blade for cooking the only one that have ever brought happiness.

Kore wa Zombie Desuka – Seraphim

Lights of Hope (Part 2 : Hope(s))

Sesampainya di apartemen, Shin terkejut melihat ada bungkusan kardus berada di depan pintu. Tidak tertulis nama pengirimnya. Hanya alamat tempat Shin tinggal dan tulisan Kagamine Shin yang merupakan nama lengkap Shin. ‘Apa ini?’ Tanya shin misterius dalam hati. Sedikit tidak memperdulikan barang itu. Ia langsung membuka pintu apartemennya, lalu menyimpan kotak kardus tersebut di atas meja.

Shin membuka kulkas kecil di pojok ruangan, lalu mengambil sekaleng bir yang ada di dalamnya. Setelah itu ia menyalakan televisi sambil mengganti bajunya.

“Pelaku terror bom hingga saat ini belum di tangkap” berita yang muncul di televisi malam itu. Shin terlihat sedikit kesal.
Read More

Lights of Hope (part 1 : Prologue)

Hari itu Shin tengah bekerja di lingkungan kerjanya. Di sebuah hotel berbintang 5. Salah satu hotel ternama yang berada di pusat kota Tokyo. Dia bekerja sebagai seorang juru masak. Meski jabatannya hanya sebagai demi chef, namun dia selalu bekerja sepenuh hati. Ya, menjadi seorang koki adalah cita – citanya sejak kecil. Dia menjadi salah satu orang yang sangat dipercaya oleh rekan – rekan kerjanya. Bahkan sang executive chef pernah menawarkannya untuk bekerja dengannya dengan gajih yang lebih besar di Amerika. Namun sayangnya Shin terpaksa menolak tawarannya.
Read More